Bisakah kita Meninggalkan perkara Yang Syubhat ?

Bisakah kita Meninggalkan perkara Yang Syubhat ?

Artikel terkait : Bisakah kita Meninggalkan perkara Yang Syubhat ?

Allah Ta'ala berfirman:
"Engkau semua mengira bahawa persoalan itu adalah remeh saja, padahal di sisi Allah ia adalah persoalan yang agung-amat penting." (an-Nur: 15) Allah Ta'ala berfirman pula:
"Sesungguhnya Tuhanmu nescayalah selalu mengintip - segala perbuatanmu." (al-Fajr: 14)

Dari an-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya apa-apa yang halal itu jelas dan sesungguhnya apa-apa yang haram itu pun jelas pula. Di antara kedua macam hal itu - yakni antara halal dan haram - ada beberapa hal yang syubhat -samar-samar atau serupa yakni tidak jelas halal dan haramnya. Tidak dapat mengetahui apa-apa yang syubhat itu sebahagian besar manusia. Maka barangsiapa yang menjaga dirinya dari perbuatan-perbuatbĂ® syubhat, maka ia telah melepaskan dirinya dari melakukan sesuatu yang mencemarkan agama serta kehormatannya. Dan barangsiapa yang telah jatuh dalam kesyubhatan-kesyubhatan, maka jatuhlah ia dalam keharaman, sebagaimana halnya seorang penggembala yang menggembala di sekitar tempat yang terlarang, hampir saja ternaknya itu makan dari tempat larangan tadi.

Dari Anas r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. menemukan sebiji buah kurma di jalanan, lalu beliau s.a.w. bersabda:
"Andaikata saya tidak takut bahawa kurma ini termasuk golongan benda sedekah, pastilah saya akan memakannya." Suatu tanda sangat berhati-hatinya beliau s.a.w. dalam hal yang syubhat. (Muttafaq 'alaih)

Dari Wabishah bin Ma'bad r.a., katanya: "Saya mendatangi Rasulullah s.a.w., lalu beliau bersabda: "Engkau datang ini hendak menanyakan perihal kebajikan?" Saya menjawab: "Ya." Beliau s.a.w. lalu bersabda lagi: "Mintalah fatwa - keterangan atau pertimbangan - pada hatimu sendiri. Kebajikan itu ialah yang jiwa itu menjadi tenang padanya - di waktu melakukan dan setelah selesainya, juga yang hati pun tenang pula merasakannya, sedang dosa ialah apa-apa yang engkau rasakan bimbang dalam jiwa serta bolak-balik -yakni ragu-ragu - dalam dada - hati, sekalipun orang banyak telah memberikan fatwanya padamu; ya, sekalipun orang banyak telah memberikan fatwanya padamu."

Keterangan:
Dua Hadis di atas itu menegaskan apa yang disebut kebajikan dan apa yang disebut dosa itu.
Kebajikan ialah:
1. Budipekerti yang baik.
2. Juga sesuatu yang dirasa tenteram dalam jiwa dan tenang dalam hati. Untuk mengetahui ini cukuplah bertanya kepada hati kita sendiri. Misalnya berkata jujur, bagaimanakah hati kita setelah melakukannya? Tenang bukan. Nah, itulah kebajikan. Tetapi berkata dusta, tenangkah jiwa kita setelah melakukannya? Pasti tidak, sebab takut ketahuan orang kedustaannya itu. Nah, tentu itu bukan kebajikan tetapi kejahatan dan dosa.
Selanjutnya yang disebut kejahatan dan dosa itu ialah:
1. Sesuatu yang membekas dalam hati yakni setelah melakukannya, hati itu selalu mengangan-angankan akibat yang buruk dari kelakuan tadi itu, jelasnya hati senantiasa gelisah kalau kelakuannya tadi diketahui oleh orang lain. Misalnya menipu, merampas hak orang, berbuat zalim dan penganiayaan, tidak jujur, memalsu dan Iain-Iain sebagainya.
2. Sesuatu yang kecuali membekas dalam jiwa, juga hati sudah bimbang dan ragu-ragu di saat melakukannya itu, sebab kalau ketahuan orang, tentu akan mendapatkan hukuman, berat atau ringan, misalnya mencuri, membunuh dan Iain-Iain lagi.
3. Sesuatu yang ditakutkan kalau diketahui orang lain, baik takut akan menjadi malu, sebab apa yang dilakukan itu merupakan hal yang tercela di kalangan masyarakat atau takut jatuh namanya, takut hukumannya dan Iain-Iain.
Rasulullah s.a.w. menandakan perihal kejahatan dan dosa itu dengan diberi tambahan kalimat: "Sekalipun orang-orang lain sama memfatwakan itu padamu serta membenarkan tindakanmu itu." Ertinya sekalipun banyak yang mendukung tindakanmu dan banyak pembelamu serta semuanya menyetujui, tetapi kalau sifatnya membekas dalam hati dan meragu-ragukan, itulah suatu tanda bahawa apa yang kamu lakukan itu suatu kejahatan atau dosa. Soal orang yang memberikan fatwa itu belum tentu benar, mungkin orang itu hanya menginginkan supaya kamu banyak menghadiahkan sesuatu padanya atau menginginkan kepangkatan kalau justeru kamu sebagai pemegang kekuasaan atau fatwanya itu hanya ditilik dari segi lahiriyahnya saja, sedang yang terkandung dalam hatimu tidak atau belum diketahui olehnya. Oleh sebab itu, tepatlah kalau Rasulullah s.a.w. mengingatkan kita agar kita lebih-lebih mengutamakan untuk meminta fatwa atau keterangan dari hati kita sendiri

Dari Athiyyah bin 'Urwah as-Sa'di as-Shababi r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Seseorang hamba itu belum sampai kepada tingkat menjadi orang yang termasuk kaum yang bertaqwa, sehingga ia suka meninggalkan sesuatu yang tidak ada larangannya kerana takut kalau-kalau dalam ha! itu ada larangannya - iaitu hal-hal yang syubhat."
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.
Referensi : Kitab Riyadus Sholihin

Artikel Pencari Inspirasi Lainnya :

3 komentar:

  1. bener tuh bos
    ane stuju banget

    BalasHapus
  2. aapun kesalahan harus diselesaikan

    BalasHapus
  3. kalau pertanyaannya, bisakah kita? jawabannya "why Not"

    BalasHapus

Copyright © 2015 Pencari Inspirasi | Design by Bamz
close