Antisipasi Futuur

Antisipasi Futuur

Artikel terkait : Antisipasi Futuur

Di dalam beraktifitas, kadang kala seorang da'i terlalu berlebihan atau memaksakan diri dalam berda'wah - amaliyah beribadah - tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi diri, baik fisik, kesehatan maupun psikis. Sedangkan dalam diri manusia memiliki kemampuan yang terbatas. Melampaui batas kewajaran dalam melakukan hal-hal yang mubah, sikap ekstrim dalam melaksanakan aturan agama, mengutamakan hidup 'uzlah (menyendiri) daripada berjamaah. Menyepelekan aktifitas harian, kurang mengingat kematian dan akhirat, mengerjakan sebagian dari syariat agama, mengabaikan kebutuhan jasmani dan membiarkan dirinya termasuki sesuatu yang haram atau bernilai syubhat, tidak terprogramnya aktifitas yang dilakukan sehingga tidak siap menghadapi kendala da'wah, melalaikan kaidah sunnatullah, dan berlarut-larut dalam melakukan maksiat sehingga meremehkan dosa-dosa yang kecil. Akhirnya terbiasa dengan dosa-dosa besar, serta berteman dengan orang yang berpenyakit futuur. Semua itu yang menyebabkan seseorang yang sedang ditanda kefutuuran.
Futuur adalah suatu penyakit hati yang efek minimalnya timbul rasa malas, lamban, dan sikap santai dalam melakukan amaliyah yang sebelumnya pernah dilakukan dengan penuh semangat dan menggebu-gebu, dan efek maksimalnya terputus sama sekali dari praktek suatu amaliyah tersebut. Penyakit rohani ini kerap menjangkiti para aktifis da'wah dalam menggeluti jalan jihad fi sabilillah. Oleh karena itu, penyakit rohani (futuur) ini tidak dibiarkan berlarut-larut dalam diri aktifis da'wah dan harus segera ditanggulangi sedini mungkin. Adapun untuk mengatasi futuur tersebut adalah:
1. Menjauhi perbuatan maksiat dan keburukan baik yang besar ataupun kecil.
Perbuatan maksiat itu ibarat api yang membakar hati serta akan mengundang kemurkaan Allah swt. Dan barang siapa yang dimurkai oleh Tuhannya, maka ia akan merugi dengan kerugian yang nyata, sebagaimana firman-Nya, "…Dan barang siapa ditimpa kemurkaan-Ku maka binasalah dia." (Thaha: 81)
2. Tekun dalam melaksanakan kewajiban harian.
Sesungguhnya melakukan kewajiban harian - membaca Al qur'an, al ma'tsurat, serta melakukan aneka shalat sunnah lainnya, seperti dhuha, qiyamullail, dan sebagainya - akan menimbulkan keimanan yang baik, memberikan keuletan pada jiwa, menggerakkan dan mempertinggi semangat, serta memperkuat 'azam (tekad) dalam berkhidmat kepada Allah swt.
3. Menghindarkan diri dari sikap berlebihan dalam menjalankan agama.
Membebaskan diri dari sikap berlebihan dan melewati batas bukan berarti meninggalkan suatu amal atau justru menyepelekannya, tetapi adanya sesuatu keseimbangan (iqthishaad) dan sikap pertengahan (tawassuth) disertai dengan usaha untuk melaksanakan secara kontinyu dan istiqomah terhadap semua sunah Rasul
"lakukanlah amal itu sebatas kesanggupanmu, sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kalian merasa bosan, dan sesungguhnya amal yang paling disukai Allah ialah amal yang dikerjakan terus menerus sekalipun sedikit (Mutafaq 'alaih).
4. Terjun dalam lingkungan jamaah dan tidak meninggalkannya dalam sikap apapun.
"Berjamaah itu menimbulkan rahmat (kasih sayang) sedangkan berpecah belah akan menyebabkan turunnya azab..." (HR. Ahmad).
5. Menyadari bentuk kendala yang akan dihadapi.
Dengan menyadari adanya kendala dalam menempuh jalan da'wah, kita akan memiliki bekal serta persiapan yang baik saat kendala itu benar-benar menghadang. Disamping itu da'i akan memiliki kesempatan untuk mengantisipasinya, khususnya yang berkaitan dengan penyakit futuur tersebut.
6. Ketelitian dan merencanakan strategi yang baik.
Dalam melakukan da'wah da'i harus senantiasa memperhatikan skala prioritas dan mengatur strategi, yakni dengan mendahulukan hal-hal yang penting dan menangguhkan hal-hal yang kurang begitu penting. Insya Allah laju perjalanan da'wah akan berjalan dengan lancar dan berhasil mencapai sasaran. Sebaliknya jika mengabaikannya akan mudah terjebak untuk memasuki kancah pertarungan sampingan atau berputar pada masalah juz'iyyah (sektoral).
7. Senantiasa menjalin hubungan dengan para shalihin dan mujahidin.
Hal ini perlu kita lakukan, mengingat para shalihin dan para mujahidin tersebut merupakan para hamba Allah yang memiliki jiwa yang bersih, cahaya hati, dan kilauan rohani, sepi dari sikap mencela dan memaksa. Oleh karena itu, jika kita senantiasa menjalin hubungan dengan mereka, akan dapat menghidupkan kembali tekad dan memicu semangat kita yang terkadang mudah turun-naik. Rasulullah memberi perhatian dalam hal ini lewat sabdanya, "Maukah kalian kukabari tentang orang yang paling baik?" Sahabat menjawab, "Tentu, ya Rasulullah." Beliau lalu berkata, "Yaitu seorang yang jika engkau melihatnya ia akan mengingatkan engkau akan Allah SWT." (HR. Ibnu Majah).
8. Memberikan waktu kepada jasmani untuk istirahat, makan, dan minum secukupnya.
Hal ini akan dapat memperbaharui semangat dalam tubuh dan mengembalikan kekuatan dan vitalitasnya. Nabi saw mengisyaratkan hal ini kepada para aktivis, pada saat beliau memasuki mesjid kemudian melihat sebuah tali yang dibentangkan di antara dua buah tiang. Beliau lalu bertanya, "Tali apa ini?" Para sahabat menjawab, "Itu tali milik Zainab. Jika ia merasa letih beribadah, ia akan segera bergantung pada tali ini (untuk beribadah)". Mendengar penjelasan tersebut beliau lalu bersabda, "Lepaskan tali itu, dan lakukanlah oleh kalian shalat selama kalian masih kuat, tetapi jika merasa lelah hendaklah kalian tidur." (Muttafaq 'alaih).
9. Menghibur diri dengan hal-hal yang dibolehkan.
Misalkan bermain dan bergurau dengan anggota keluarga (anak dan istri), melakukan rihlah (wisata) bersama mereka, seperti memancing, berolah raga, tadabbur (merenungi) dan tafakkur (memikirkan) keindahan alam, hiking (mendaki gunung), latihan pengembaraan untuk melatih, membekali, dan membiasakan diri ketika berhadapan dengan suatu kesulitan, berkebun, dan lain-lain.
10. Melakukan kajian secara kontinyu terhadap buku-buku yang membahas perjalanan hidup atau sejarah para sahabat atau orang-orang shalihin lainnya.
Semua kisah mereka itu sarat dengan hikmah dan perjalanan. Dapat kita jadikan sumber referensi serta bahan bandingan dalam menghadapi persoalan-persoalan yang kita hadapi saat ini. "Sungguh, di dalam kisah-kisah mereka (para nabi) terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berfikir…" (QS Yusuf: 111).
11. Mengingat kematian dan kejadian-kejadian yang bakal terjadi selanjutnya.
Dengan senantiasa mengingat kematian dan kejadian-kejadian yang bakal dihadapi selanjutnya akan dapat membangunkan jiwa dari kelelapan, membangkitkannya dari kemalasan, mengingatkannya dari kelelapan, mengingatkannya dari kelalaian, sehingga kita akan kembali bersemangat dan mulai meneruskan amaliyah. Cara yang paling baik untuk mengingat kematian adalah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw, yakni dengan mempersering ziarah kubur, mengantarkan jenazah, atau mengunjungi orang-orang yang tengah dilanda sakit keras.
12. Mengingat kenikmatan surga dan azab neraka.
Hal ini akan mampu mengusir rasa kantuk dari kelopak mata, menggerakkan dan membangkitkan semangat yang mulai kendor dan melemah. Dalam sebuah riwayat dari Haram bin Hayyan, ia pernah keluar pada suatu malam, kemudian ia memanggil-manggil dengan suara keras, "Aku terpikat oleh surga. Jadi bagaimanakah seseorang yang menginginkannya dapat tidur? Dan aku sangat takut pada siksa neraka. Jadi, bagaimanakah orang yang ingin menjauhinya dapat tidur?" Kemudian ia membaca sebuah ayat, "Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?" (At-Takhwiif bi an-Naar, Ibnu Rajab).
13. Menghadiri majelis-majelis ilmu.
Karena ilmu adalah penghidup hati, maka ketika seseorang mendengarkan kata-kata dari seorang alim yang shadiq (benar) dan mukhlis (ikhlas), maka hal itu akan dapat menyuburkan semangat dirinya. Mahabenar Allah yang telah berfirman, "…Sesungguhnya yang takut terhadap Allah adalah hamba-hamba-Nya yang berilmu…" (QS. Faathir: 28). "Dan katakanlah, Ya Tuhan, tambahkanlah aku ilmu pengetahuan." (QS. Thaahaa: 114).
14. Menjalankan ajaran agama secara total.
Hal tersebut lebih menjamin kontinuitas suatu amal hingga batas akhir kehidupan kita kelak.
15. Muhasabatu an nafs (mengoreksi jiwa).
Senantiasa memantau keadaan hati dapat mengantisipasi suatu kesalahan pada waktu dini, sehingga proses pengobatannya akan lebih mudah. "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan." (QS. Al Hasyr: 18).
Maraji': Penyebab Gagalnya Dakwah (Dr. Sayyid Muhammad Nuh).(www.ikhwah-net.8m.com)

Artikel Pencari Inspirasi Lainnya :

0 komentar:

Poskan Komentar

Copyright © 2015 Pencari Inspirasi | Design by Bamz
close